Ketika
kita berada di dunia maka tidak lama lagi kita akan berada di akhirat,
ketika kita berada di waktu siang maka kita akan segera menemui malam,
ketika kita merasakan manis maka pahit pun akan kita jumpai, ketika ada
kesulitan pasti ada kemudahan, ketika kita membawa sesuatu yang berat
maka suatu saat kita akan membawa yang ringan pula dan begitulah
seterusnya tentang makna berpasang-pasangan.
Begitu
indah terdengar bila sepasang kata dan makna dipadukan, tapi mungkin
akan membuat hati kita bergetar dan ketakutan bila hal itu menimpa diri
kita terutama pada kondisi yang tidak kita inginkan.
Ada
hal menarik yang perlu kita pikirkan dan renungkan lebih dalam ketika
memaknai bahtera hidup ini. Sepasang kata dan ungkapan yang indah, belum
tentu menjadikan diri kita siap untuk menerimanya. Dan ungkapan itu
adalah “Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan”. Siapa yang tak
kenal ungkapan ini? Siapa yang tak paham prinsip hidup ini? Dan siapa
pula yang mengingkari bahwa hal ini adalah kenyataan yang ada dalam
hidup kita? Semuanya akan menjawab : ” Saya mengenalnya, saya memahaminya dan saya tahu bahwa itu adalah prinsip hidup yang selalu saya pegang sejak lama.”
Pada
saat kesulitan hidup datang, mereka lupa bahwa hidupnya sedang dalam
ujian dan cobaan bahkan peringatan. Mereka mengeluh dan menangis, mereka
tidak terima dan berontak, mereka lari dan berputus asa. Mereka
menyalahkan diri mereka sendiri dan mengkambing hitamkan orang lain,
mereka mencaci diri sendiri dan memaki siapa saja. Dan mereka pun sampai
pada titik terlemahnya iman seseorang dengan mengatakan bahwa : ” Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mengasihaniku, mengapa aku ditimpa kesulitan dan kesusahan seperti ini?”
Sampai sejauh manakah respon kita dalam menyikapi kesulitan yang
datang? Sampai dimanakah keikhlasan kita pada saat kesulitan menimpa
kita? Sampai sejauh manakah kita mengambil hikmah dari kesulitan yang
melanda diri kita? Sekali lagi, ungkapan itu begitu indah, begitu
menggetarkan hati, tapi dalam kenyataannya tidak semudah seperti yang
kita bayangkan.
Begitu
beratnya diri kita untuk menerima kenyataaan itu dengan ketulusan dan
begitu bodohnya diri kita bila mengakui bahwa itu adalah prinsip hidup
kita tapi tidak memaknai bahwa semuanya itu adalah suatu ujian,
pelajaran, motivasi dan penambah kepekaan hati kita terhadap kesulitan
yang orang lain rasakan. Jika ingin kesulitan kita berkurang bahkan
sirna, maka belajarlah untuk bisa mengurangi kesulitan orang lain, dan
Allah pun akan menghapuskan kesulitan kita. Bukankah setiap penyakit ada
obatnya? Bukankah setiap permasalahan ada jalan keluarnya?
Bergembiralah dan yakinkanlah dalam benak dan hati kita yang paling
dalam bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan menerpa akan ada kemudahan
yang menghampiri.
Janganlah
berputus asa karena masih banyak dari mereka yang ditimpa kesulitan
jauh melebihi kesulitan yang kita alami. Berbahagialah dan teruslah
berharap kemudahan dan kebahagiaan menyelimuti hidup kita.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa siapapun pasti mendambakan hidupnya selalu dalam
kemudahan. Bagi mereka yang pada saat ditimpa kesulitan tetap tabah,
ikhlas dan tulus sepenuh hati serta selalu menganggapnya sebagai
pelajaran, peringatan juga motivasi hidupnya, maka sesungguhnya mereka
akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila kemudahan telah
datang menghampirinya. Seakan-akan dalam hidupnya mereka tidak pernah
terjadi kesulitan, melainkan hanya ujian yang dinikmati dan dilanjutkan
dengan kemudahan yang sesungguhnya. Bisa jadi mereka berkata: “Aku
tidak pernah mengalami kesulitan, karena aku ikhlas menerimanya. Aku
tidak pernah merasakan kesusahan, karena aku tulus menjalaninya. Aku
tidak pernah mengeluh karena aku tetap tegar menguasai jiwaku. Aku tidak
pernah merasakan penderitaan, karena aku sedang berusaha untuk menjadi
dewasa. Aku tidak pernah menangis, karena aku tidak berputus asa.”
Maka berbahagialah mereka yang selalu menganggap segala kesulitan dan
kesusahan adalah awal dari kemudahan. Mereka beruntung karena memiliki
jiwa yang kuat dan tetap menjadi dirinya sendiri.
Sungguh
ironis bila kenyataan hidup seperti itu tidak dibarengi dengan pondasi
jiwa yang kuat, ilmu yang memadai dan iman yang menjadi tameng. Ketika
mereka berada dalam puncak kesenangan hidupnya, mereka sedikit lalai
bahkan mulai pudar prinsip yang ia pegang. Dia merasa hidupnya sudah
mapan dan tak ada sesuatu pun yang bisa membuatnya menderita.
Keangkuhannya dan kesombongannya ternyata membuka pintu hidupnya kembali
pada tahta terendah dalam hidupnya. Mereka lupa dan tidak pernah
memikirkan bahwa setelah ada turunan curam, maka mereka akan berhadapan
dengan tanjakan terjal. Ketika diumpamakan dengan sebuah mobil, pada
saat menemui turunan maka mobil harus direm dan pada saat mendapatkan
tanjakan mobil pun harus digas. Rem adalah pengendali agar tidak
terperosok dan gas adalah motivator agar cepat berada dalam harapan dan
keinginan.
Kehidupan
yang serba mudah akan dengan cepat berbalik arah menuju kesusahan dan
keterpurukan. Mereka yang tidak siap menghadapi ke fase berikutnya
terutama berhadapan dengan kesulitan hidup, maka mereka akan mengalami
stress yang berkepanjangan bahkan gangguan jiwa. Semuanya karena mereka
tidak mempersiapkan jiwa dan pikirannya dengan keikhlasan dan tidak
pernah belajar dan mengambil hikmah pada saat kesulitan datang
menghampirinya. Wahai saudaraku, manfaatkanlah pada masa kesulitan dan
kesusahan itu sebagai ujian, pelajaran, motivasi dan hikmah yang
berharga dalam rangka pendewasaan diri. Bergembiralah karena sesudah
kesulitan pasti ada kemudahan.
Kita
harus sabar, ikhlas, besar hati dan mengambil hikmah dari setiap
kejadian yang menimpa kita. Bukankah kesulitan itu merupakan awal menuju
kemudahan? Bukankah kehidupan kita ini selalu berpasang-pasangan? Hari
ini kita susah, tapi yakinlah cepat atau lambat kemudahan akan
menghampiri kita. Dan jika sekarang kita sedang merasa ada dalam
kemudahan, bersiap-siaplah dengan kesulitan yang segera mendekat.
Perkuat jiwa kita agar kita mampu menikmati segala liku-liku perjalanan
hidup.
Sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti.
Meski demikian, yang gaib tetap tersembunyi, dan sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua.
Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.
Meski demikian, yang gaib tetap tersembunyi, dan sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua.
Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.